Review The Blood of Dawnwalker – Rebel Wolves merupakan studio baru yang dipimpin oleh mantan pengembang CD Projekt Red, termasuk Konrad Tomaszkiewicz yang dikenal berkat keterlibatannya dalam pengembangan The Witcher 3: Wild Hunt.

Dengan pengalaman besar dalam menciptakan salah satu game RPG terbaik sepanjang masa, tentu banyak gamer yang penasaran dengan proyek terbaru dari Rebel Wolves. Kini, studio tersebut menghadirkan game ambisius berjudul The Blood of Dawnwalker.

Kami berkesempatan untuk memainkan game ini terlebih dahulu sebelum perilisan resminya. Dalam artikel kali ini, Gamebrott akan membagikan pengalaman bermain sekaligus review The Blood of Dawnwalker.

Seperti apa RPG terbaru dengan tema vampir dari Rebel Wolves ini? Mari kita bahas bersama.

Abad ke-14 dengan Unsur Vampir yang Kelam

The Blood of Dawnwalker membawa pemain ke dunia fantasi kelam dengan latar abad ke-14. Cerita berfokus pada seorang pemuda bernama Coen yang tinggal di sebuah desa kecil.

Desa tersebut berada di bawah kekuasaan Brencis, seorang Vampire Lord. Menariknya, keberadaan Brencis tidak hanya membawa ancaman bagi penduduk. Sang vampir juga memberikan perlindungan kepada desa tersebut, meskipun tentu saja perlindungan itu memiliki harga yang harus dibayar.

Petualangan Coen dimulai ketika dirinya masih menjadi manusia biasa. Melalui bagian prologue yang cukup unik, pemain akan mengikuti perkembangan cerita hingga akhirnya sang protagonis berubah menjadi seorang Dawnwalker.

Status tersebut membuat Coen memiliki kemampuan yang cukup menarik. Pada siang hari, dirinya hidup sebagai manusia. Namun ketika malam tiba, Coen berubah menjadi vampir dan mendapatkan kemampuan yang berbeda.

Perbedaan antara kehidupan manusia di siang hari dan vampir di malam hari menjadi salah satu elemen utama yang membuat gameplay The Blood of Dawnwalker terasa menarik.

Deadline 30 Hari!

Salah satu hal yang paling unik dari The Blood of Dawnwalker adalah hadirnya sistem Deadline untuk cerita utamanya.

Coen memiliki waktu selama 30 hari dalam game untuk menyelamatkan keluarganya dari Brencis. Karena itulah, waktu menjadi salah satu sumber daya paling penting yang harus diperhatikan pemain.

Kamu tidak bisa sembarangan melakukan semua aktivitas yang tersedia. Pemain harus benar-benar mempertimbangkan bagaimana cara menggunakan waktu tersebut.

Apakah ingin fokus memperkuat karakter? Menyelesaikan misi sampingan? Mencari informasi penting? Atau langsung mengejar tujuan utama?

Semua keputusan tersebut berada di tangan pemain.

Sistem ini juga membuat The Blood of Dawnwalker memiliki nilai replayability yang cukup menarik. Setelah menamatkan game, pemain bisa kembali memainkannya dan mencoba pendekatan yang berbeda.

Mungkin pada permainan pertama kamu terlalu fokus pada cerita utama. Namun pada playthrough berikutnya, kamu bisa mencoba menyelesaikan lebih banyak misi sampingan atau mengambil pilihan yang sebelumnya tidak sempat dilakukan. okeslot

Setiap Tindakan Akan Memakan Waktu

Meskipun memiliki batas waktu selama 30 hari, sistem waktu dalam The Blood of Dawnwalker tidak berjalan secara seamless atau real-time seperti game Open World RPG pada umumnya.

Dalam satu hari, pemain memiliki total 16 bar waktu yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai aktivitas. Jumlah tersebut kemudian dibagi menjadi dua bagian, yaitu delapan bar untuk siang hari dan delapan bar untuk malam hari.

Setiap aktivitas yang dilakukan dapat memengaruhi waktu yang tersisa.

Bar waktu akan berkurang tergantung pada keputusan pemain, seperti saat mengerjakan misi utama, misi sampingan, atau aktivitas tertentu lainnya.

Contohnya bisa ditemukan sejak bagian prologue. Dalam salah satu sesi, pemain diminta untuk mengambil obat dan kemudian pulang setelah mendapatkannya.

Namun, setelah berhasil mengambil obat tersebut, pemain diberikan pilihan. Kamu bisa langsung pulang atau menggunakan waktu yang tersedia untuk melakukan aktivitas lain terlebih dahulu.

Pilihan tersebut terlihat sederhana, tetapi ketika sistem Deadline sudah dimulai, setiap bar waktu menjadi sangat berharga.

Pilihan Bisa Menghemat atau Menghabiskan Waktu

Selama bermain, kami menemukan beberapa misi yang memberikan pilihan menarik terkait penggunaan waktu.

Dalam situasi tertentu, pemain bisa memilih untuk menunggu hingga pagi hari sebelum melanjutkan sebuah misi. Namun, pilihan tersebut tentunya akan menghabiskan waktu yang tersedia.

Sebagai alternatif, kamu bisa memilih untuk langsung mengambil tindakan dan menyelesaikan masalah saat itu juga.

Tentu saja, keputusan tersebut tidak selalu mudah.

Menunggu mungkin menjadi pilihan yang lebih aman, tetapi kamu harus mengorbankan waktu. Sementara itu, bertindak langsung dapat menghemat waktu, tetapi bisa saja menghadirkan tantangan atau risiko yang lebih besar.

Di sinilah salah satu kekuatan utama The Blood of Dawnwalker terasa.

Pemain tidak hanya diberikan pilihan dalam dialog, tetapi juga harus memikirkan bagaimana setiap keputusan dapat memengaruhi waktu yang mereka miliki.

Dengan deadline yang terus berjalan, pemain harus menentukan prioritas selama petualangan Coen.

Pilihan Pemain Berdampak terhadap Berbagai Hal

Seperti RPG modern pada umumnya, The Blood of Dawnwalker memberikan kebebasan kepada pemain untuk menentukan berbagai pilihan selama permainan.

Namun, keputusan yang diambil tidak hanya sekadar menentukan dialog berikutnya.

Pilihan pemain dapat memengaruhi cara menyelesaikan sebuah masalah, interaksi dengan karakter tertentu, hingga jalannya petualangan Coen.

Ditambah dengan sistem Deadline 30 hari, setiap keputusan terasa memiliki konsekuensi yang lebih besar. Kamu tidak bisa begitu saja mencoba semua hal yang tersedia tanpa memikirkan waktu yang terus berjalan.

Hal ini membuat pengalaman bermain terasa lebih personal.

Setiap pemain berpotensi memiliki pengalaman yang berbeda tergantung pada pilihan, strategi, dan aktivitas yang mereka prioritaskan selama bermain.

Kesimpulan Review The Blood of Dawnwalker

Berdasarkan pengalaman bermain kami sejauh ini, The Blood of Dawnwalker terlihat sebagai RPG yang memiliki banyak ide menarik.

Latar abad ke-14 yang dipadukan dengan unsur vampir berhasil memberikan nuansa fantasi kelam yang cukup kuat. Cerita tentang Coen yang berubah menjadi Dawnwalker juga membuka berbagai kemungkinan menarik dalam gameplay, terutama karena dirinya menjadi manusia pada siang hari dan vampir ketika malam tiba.

Namun, hal yang paling menonjol tentu saja adalah sistem Deadline 30 hari.

Mekanik ini membuat waktu menjadi sesuatu yang sangat penting dan memaksa pemain untuk benar-benar mempertimbangkan setiap aktivitas yang dilakukan.

Kamu harus memilih apakah ingin menggunakan waktu untuk memperkuat karakter, menyelesaikan misi sampingan, mencari informasi, atau langsung fokus mengejar tujuan utama.

Ditambah dengan berbagai pilihan yang dapat memberikan dampak terhadap permainan, The Blood of Dawnwalker menawarkan pengalaman RPG yang terasa berbeda dari kebanyakan game Open World lainnya.

Tentu masih banyak hal yang bisa dieksplorasi dari game ini. Namun berdasarkan pengalaman awal kami, karya terbaru Rebel Wolves menjadi salah satu game RPG yang patut dinantikan, terutama bagi gamer yang menyukai dunia fantasi kelam, vampir, dan sistem pilihan yang memiliki konsekuensi.

Bagaimana menurut kalian? Apakah The Blood of Dawnwalker menjadi salah satu game RPG yang kalian nantikan?


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *