Site icon Situs #1 Berita Gaming Rekomendasi

Gacha Game Fatigue: Ketika Game Gacha Mulai Terlalu Banyak?

Kalau melihat perkembangan industri game mobile dalam beberapa tahun terakhir, rasanya hampir setiap bulan selalu ada saja pengumuman game gacha baru.

Kesuksesan beberapa judul besar membuat semakin banyak developer dan publisher tertarik masuk ke pasar yang sama. Nama-nama besar seperti HoYoverse bahkan terus memperluas portofolionya melalui berbagai proyek baru.

Di luar itu, masih ada banyak game lain yang juga menarik perhatian, seperti Azur Promilia, Arknights: Endfield, Neverness to Everness, Ananta, dan sejumlah proyek lain yang masih dalam tahap pengembangan.

Jika seluruh proyek tersebut benar-benar dirilis, jumlah game gacha baru dalam beberapa tahun ke depan bisa mencapai puluhan judul.

Sekilas, kondisi ini terdengar menyenangkan. Pemain punya semakin banyak pilihan.

Namun, ada satu masalah yang mulai terasa di komunitas: gacha game fatigue.

Apa Itu Gacha Game Fatigue?

Secara sederhana, gacha game fatigue adalah kondisi ketika pemain mulai merasa lelah mengikuti terlalu banyak game gacha sekaligus.

Menariknya, rasa lelah tersebut tidak selalu muncul karena game-game tersebut buruk.

Justru sebaliknya.

Banyak game gacha modern memiliki kualitas visual yang bagus, karakter menarik, cerita panjang, musik berkualitas, dan gameplay yang cukup solid.

Masalahnya adalah hampir semuanya meminta hal yang sama dari pemain: waktu dan perhatian.

Login setiap hari, menyelesaikan daily quest, menghabiskan stamina, farming material, mengikuti event terbatas, membaca cerita baru, hingga mengejar karakter dari banner tertentu.

Kalau hanya satu game, mungkin semuanya masih terasa ringan.

Tapi bagaimana kalau ada empat atau lima game yang dimainkan bersamaan?

Di situlah masalahnya mulai muncul.

Genshin Impact dan Awal Booming Gacha Modern

Sulit membicarakan perkembangan game gacha modern tanpa membahas Genshin Impact.

Game tersebut berhasil mengubah pandangan banyak orang terhadap game free-to-play. Sebelumnya, game gratis sering dianggap memiliki kualitas yang jauh di bawah game premium.

Genshin Impact membuktikan bahwa game free-to-play bisa memiliki dunia yang luas, visual berkualitas tinggi, musik yang sangat baik, serta produksi yang terasa seperti game AAA.

Kesuksesan tersebut tentu menjadi contoh bagi developer lain.

Jika satu game bisa menghasilkan pendapatan besar dengan sistem gacha, tidak mengherankan jika studio lain ingin mencoba formula yang sama.

Masalahnya, semakin banyak developer mengikuti formula tersebut, semakin banyak pula game yang akhirnya memiliki struktur serupa.

Open world, karakter anime, sistem gacha, real-time combat, event musiman, farming material, dan update konten secara berkala menjadi formula yang semakin umum.

Tidak ada yang salah dengan mengikuti tren.

Tetapi ketika terlalu banyak game menggunakan resep yang hampir sama, pemain akhirnya mulai merasa semuanya terlihat familiar.

Developer Kini Bersaing Merebut Waktu Pemain

Salah satu perbedaan terbesar antara game gacha dengan game premium adalah cara keduanya memperlakukan waktu pemain.

Game premium umumnya memiliki awal dan akhir yang jelas.

Sementara itu, game gacha dirancang agar pemain terus kembali selama mungkin.

Ada daily quest, stamina, weekly mission, event terbatas, login reward, banner karakter, hingga berbagai aktivitas lain yang membuat pemain merasa perlu membuka game setiap hari.

Satu game mungkin hanya membutuhkan waktu 30 menit sampai satu jam.

Masalahnya muncul ketika jumlah game yang dimainkan bertambah.

Bayangkan memainkan lima game gacha sekaligus.

Kalau masing-masing membutuhkan waktu 30 menit setiap hari, sudah ada sekitar 2,5 jam yang harus disisihkan hanya untuk aktivitas rutin.

Belum termasuk event besar, update cerita, farming, atau mengejar karakter baru.

Pada titik tertentu, pemain bukan lagi memilih game yang ingin dimainkan.

Mereka mulai memilih game mana yang harus dikorbankan.

Ketika Bermain Game Mulai Terasa Seperti Pekerjaan

Sistem live service memang dirancang agar pemain selalu memiliki alasan untuk kembali.

Masalahnya, terlalu banyak sistem yang menggunakan prinsip fear of missing out (FOMO).

Banner karakter hanya tersedia dalam waktu tertentu. Event memiliki batas waktu. Hadiah eksklusif bisa menghilang. Bahkan beberapa konten mendorong pemain untuk menyelesaikannya sebelum periode tertentu berakhir.

Awalnya mungkin terasa menyenangkan.

Tetapi setelah berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, tekanan tersebut bisa berubah menjadi kelelahan.

Pemain akhirnya login bukan karena ingin bermain, tetapi karena merasa harus login.

Daily quest bukan lagi aktivitas yang menyenangkan, melainkan sesuatu yang harus diselesaikan agar tidak merasa rugi.

Pada titik itulah game mulai terasa seperti pekerjaan tambahan.

Kualitas Semakin Tinggi, Tetapi Identitas Mulai Kabur

Ironisnya, kualitas produksi game gacha saat ini memang semakin tinggi.

Visual semakin bagus, animasi semakin halus, dunia semakin luas, dan karakter semakin detail.

Namun, semakin tinggi kualitas produksinya, terkadang perbedaan antar game justru terasa semakin kecil.

Banyak game menawarkan karakter bergaya anime, eksplorasi open world, sistem gacha, farming equipment, cerita per chapter, event berkala, dan sistem progression yang hampir serupa.

Tentu setiap game tetap memiliki identitas masing-masing.

Ada yang lebih menonjolkan combat, eksplorasi, crafting, simulasi, hingga berbagai sistem gameplay lainnya.

Namun bagi pemain yang sudah memainkan banyak game sejenis, perbedaannya terkadang belum cukup besar untuk membuat mereka rela menginvestasikan ratusan jam lagi.

Pada akhirnya, persoalannya bukan lagi apakah game tersebut bagus.

Pertanyaannya menjadi:

“Apakah saya masih punya waktu untuk memainkan game ini?”

Apakah Semua Game Harus Menjadi Live Service?

Pertanyaan lain yang juga menarik adalah apakah semua game memang harus menggunakan model live service.

Dari sisi bisnis, alasannya cukup jelas.

Game premium biasanya mendapatkan sebagian besar pendapatan ketika pemain membeli game tersebut. Sementara live service memungkinkan developer mendapatkan pemasukan secara berkelanjutan melalui karakter baru, battle pass, kosmetik, event, dan berbagai konten lainnya.

Tetapi konsekuensinya adalah pemain harus terus memberikan perhatian.

Setiap developer ingin game mereka menjadi bagian dari rutinitas pemain.

Masalahnya, jumlah waktu yang dimiliki pemain tidak ikut bertambah.

Dalam sehari tetap hanya ada 24 jam.

Gamer Kini Semakin Selektif

Ada satu sisi positif dari semakin padatnya pasar game gacha.

Pemain kini menjadi jauh lebih kritis.

Dulu, sebuah game gacha baru bisa mendapatkan perhatian hanya karena memiliki visual yang bagus atau karakter yang menarik.

Sekarang pemain mulai bertanya lebih jauh:

Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pemain tidak lagi mudah tertarik hanya dengan tampilan visual.

Developer harus memberikan alasan yang lebih kuat mengapa pemain harus menginvestasikan waktu mereka.

Game Tanpa Gacha Juga Bisa Menarik Perhatian

Fenomena ini juga membuat game dengan pendekatan berbeda menjadi semakin menarik.

Salah satu contoh yang sempat mendapatkan perhatian adalah Dragon Sword: Awakening, yang mengalami perubahan model bisnis dari free-to-play berbasis gacha menjadi game premium tanpa sistem gacha ketika dirilis di Steam.

Kasus tersebut memang memiliki konteks tersendiri dan tidak bisa dijadikan bukti bahwa semua game gacha harus berubah menjadi game premium.

Namun, fenomena tersebut tetap menarik untuk diamati.

Pada akhirnya, sebuah game tidak selalu membutuhkan sistem gacha untuk bisa menarik pemain. Gameplay yang bagus, desain yang menarik, serta pengalaman bermain yang menyenangkan tetap menjadi faktor utama.

Gacha Game Fatigue Mungkin Baru Awal

Melihat kondisi industri saat ini, gacha game fatigue kemungkinan bukan sekadar tren sementara.

Selama developer terus membuat game live service baru, sementara jumlah waktu luang pemain tetap terbatas, rasa lelah tersebut kemungkinan akan semakin banyak dirasakan.

Namun, bukan berarti industri game gacha akan segera runtuh.

Genre ini masih memiliki komunitas yang sangat besar dan menghasilkan pendapatan yang signifikan.

Yang mungkin berubah adalah perilaku pemain.

Daripada mencoba setiap game baru, pemain mungkin akan semakin memilih hanya satu atau dua game yang benar-benar mereka sukai.

Game lainnya mungkin hanya dicoba sebentar. Jika tidak memberikan pengalaman yang cukup menarik, pemain bisa langsung meninggalkannya.

Dan mungkin memang itu hal yang sehat.

Pada akhirnya, game dibuat untuk memberikan hiburan, bukan menambah daftar pekerjaan harian. lgo99

Jika sebuah game mulai membuat kita merasa terbebani hanya karena takut ketinggalan, mungkin sudah waktunya untuk berhenti sejenak.

Karena di tengah semakin banyaknya game gacha yang bermunculan, menjadi selektif mungkin justru menjadi cara terbaik untuk mempertahankan rasa suka terhadap game itu sendiri.

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu juga mulai merasakan gacha game fatigue, atau justru semakin tertarik mencoba setiap game gacha baru yang bermunculan?

Exit mobile version